Kupu-Kupu Kebahagiaan…

Agustus 20, 2009 at 2:00 am (Uncategorized)

Suatu ketika, terdapat seorang pemuda di tepian telaga. Ia tampak termenung. Tatapan matanya kosong, menatap hamparan air di depannya. Seluruh penjuru mata angin telah di lewatinya, namun tak ada satupun titik yang membuatnya puas. Kekosongan makin senyap, sampai ada suara yang menyapanya. Ada orang lain disana. “Sedang apa kau disini anak muda?” tanya seseorang. Rupanya ada seorang kakek tua. “Apa yang kau risaukan..?” Anak muda itu menoleh ke samping, “Aku lelah Pak Tua. Telah berkilo-kilo jarak yang kutempuh untuk mencari kebahagiaan, namun tak juga kutemukan rasa itu dalam diriku. Aku telah berlari melewati gunung dan lembah, tapi tak ada tanda kebahagiaan yang hadir dalam diriku. Kemana kah aku harus mencarinya? Bilakah kutemukan rasa itu?”

Kakek Tua duduk semakin dekat, mendengarkan dengan penuh perhatian. Di pandangnya wajah lelah di depannya. Lalu, ia mulai bicara, “Di depan sana, ada sebuah taman. Jika kamu ingin jawaban dari pertanyaanmu, tangkaplah seekor kupu-kupu buatku. Mereka berpandangan. “Ya…tangkaplah seekor kupu-kupu buatku dengan tanganmu” sang Kakek mengulang kalimatnya lagi.

Perlahan pemuda itu bangkit. Langkahnya menuju satu arah, taman. Tak berapa lama, dijumpainya taman itu. Taman yang yang semarak dengan pohon dan bunga-bunga yang bermekaran. Tak heran, banyak kupu-kupu yang berterbangan disana. Sang kakek, melihat dari kejauhan, memperhatikan tingkah yang diperbuat pemuda yang sedang gelisah itu. Anak muda itu mulai bergerak. Dengan mengendap-endap, ditujunya sebuah sasaran. Perlahan. Namun, Hap! sasaran itu luput. Di kejarnya kupu-kupu itu ke arah lain. Ia tak mau kehilangan buruan. Namun lagi-lagi. Hap!. Ia gagal. Ia mulai berlari tak beraturan. Diterjangnya sana-sini. Ditabraknya rerumputan dan tanaman untuk mendapatkan kupu-kupu itu. Diterobosnya semak dan perdu di sana. Gerakannya semakin liar.

Adegan itu terus berlangsung, namun belum ada satu kupu-kupu yang dapat ditangkap. Sang pemuda mulai kelelahan. Nafasnya memburu, dadanya bergerak naik-turun dengan cepat. Sampai akhirnya ada teriakan, “Hentikan dulu anak muda. Istirahatlah.” Tampak sang Kakek yang berjalan perlahan. Ada sekumpulan kupu-kupu yang berterbangan di sisi kanan-kiri kakek itu. Mereka terbang berkeliling, sesekali hinggap di tubuh tua itu.

“Begitukah caramu mengejar kebahagiaan? Berlari dan menerjang? Menabrak-nabrak tak tentu arah, menerobos tanpa peduli apa yang kau rusak?” Sang Kakek menatap pemuda itu. “Nak, mencari kebahagiaan itu seperti menangkap kupu-kupu. Semakin kau terjang, semakin ia akan menghindar. Semakin kau buru, semakin pula ia pergi dari dirimu.”

“Namun, tangkaplah kupu-kupu itu dalam hatimu. Karena kebahagiaan itu bukan benda yang dapat kau genggam, atau sesuatu yang dapat kau simpan. Carilah kebahagiaan itu dalam hatimu. Telusuri rasa itu dalam kalbumu. Ia tak akan lari kemana-mana. Bahkan, tanpa kau sadari kebahagiaan itu sering datang sendiri.”

Kakek Tua itu mengangkat tangannya. Hap, tiba-tiba, tampak seekor kupu-kupu yang hinggap di ujung jari. Terlihat kepak-kepak sayap kupu-kupu itu, memancarkan keindahan ciptaan Tuhan. Pesonanya begitu mengagumkan, kelopak sayap yang mengalun perlahan, layaknya kebahagiaan yang hadir dalam hati. Warnanya begitu indah, seindah kebahagiaan bagi mereka yang mampu menyelaminya.

Mencari kebahagiaan adalah layaknya menangkap kupu-kupu. Sulit, bagi mereka yang terlalu bernafsu, namun mudah, bagi mereka yang tahu apa yang mereka cari. Kita mungkin dapat mencarinya dengan menerjang sana-sini, menabrak sana-sini, atau menerobos sana-sini untuk mendapatkannya. Kita dapat saja mengejarnya dengan berlari kencang, ke seluruh penjuru arah. Kita pun dapat meraihnya dengan bernafsu, seperti menangkap buruan yang dapat kita santap setelah mendapatkannya.

Namun kita belajar. Kita belajar bahwa kebahagiaan tak bisa di dapat dengan cara-cara seperti itu. Kita belajar bahwa bahagia bukanlah sesuatu yang dapat di genggam atau benda yang dapat disimpan. Bahagia adalah udara, dan kebahagiaan adalah aroma dari udara itu. Kita belajar bahwa bahagia itu memang ada dalam hati. Semakin kita mengejarnya, semakin pula kebahagiaan itu akan pergi dari kita. Semakin kita berusaha meraihnya, semakin pula kebahagiaan itu akan menjauh.

Cobalah temukan kebahagiaan itu dalam hatimu. Biarkanlah rasa itu menetap, dan abadi dalam hati kita. Temukanlah kebahagiaan itu dalam setiap langkah yang kita lakukan. Dalam bekerja, dalam belajar, dalam menjalani hidup kita. Dalam sedih, dalam gembira, dalam sunyi dan dalam riuh. Temukanlah bahagia itu, dengan perlahan, dalam tenang, dalam ketulusan hati kita.

Saya percaya, bahagia itu ada dimana-mana. Rasa itu ada di sekitar kita. Bahkan mungkin, bahagia itu “hinggap” di hati kita, namun kita tak pernah memperdulikannya. Mungkin juga, bahagia itu berterbangan di sekeliling kita, namun kita terlalu acuh untuk menikmatinya.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

ALLAH itu Ada…

Agustus 17, 2009 at 9:09 am (Islam)

north-pole-moon2Ada seorang pemuda yang lama sekolah di negeri paman Sam kembali ketanah
air. Sesampainya dirumah ia meminta kepada orang tuanya untuk mencari seorang Guru agama, kiai atau siapapun yang bisa menjawab 3 pertanyaannya.

Akhirnya Orang tua pemuda itu mendapatkan orang tersebut.
Pemuda: Anda siapa? Dan apakah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya?
Kyai : Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya akan menjawab pertanyaan anda
Pemuda: Anda yakin? sedang Profesor dan banyak orang pintar saja tidak mampu menjawab pertanyaan saya.
Kyai : Saya akan mencoba sejauh kemampuan saya
Pemuda: Saya punya 3 buah pertanyaan
1. Kalau memang Tuhan itu ada, tunjukan wujud Tuhan kepada saya
2. Apakah yang dinamakan takdir
3. Kalau syetan diciptakan dari api kenapa dimasukan ke neraka yang dibuat dari api,tentu tidak menyakitkan buat syetan Sebab mereka memiliki unsur yang sama. Apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu?

Tiba-tiba Kyai tersebut menampar pipi si Pemuda dengan keras.
Pemuda (sambil menahan sakit): Kenapa anda marah kepada saya?
Kyai : Saya tidak marah…Tamparan itu adalah jawaban saya atas 3 buah pertanyaan yang anda ajukan kepada saya
Pemuda: Saya sungguh-sungguh tidak mengerti
Kyai : Bagaimana rasanya tamparan saya?
Pemuda: Tentu saja saya merasakan sakit
Kyai : Jadi anda percaya bahwa sakit itu ada?
Pemuda: Ya
Kyai : Tunjukan pada saya wujud sakit itu !
Pemuda: Saya tidak bisa
Kyai : Itulah jawaban pertanyaan pertama: kita semua merasakan keberadaan Tuhan tanpa mampu melihat wujudnya.

Kyai : Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar oleh saya?
Pemuda: Tidak
Kyai : Apakah pernah terpikir oleh anda akan menerima sebuah tamparan dari saya hari ini?
Pemuda: Tidak
Kyai : Itulah yang dinamakan Takdir

Kyai : Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar anda?
Pemuda: kulit
Kyai : Terbuat dari apa pipi anda?
Pemuda: kulit
Kyai : Bagaimana rasanya tamparan saya?
Pemuda: sakit
Kyai : Walaupun Syeitan terbuat dari api dan Neraka terbuat dari api,Jika Tuhan berkehendak maka Neraka akan Menjadi tempat menyakitkan untuk syeitan.

Subhanallah

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO

Agustus 17, 2009 at 8:48 am (Sastra dan Budaya)

PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO

Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
dipanggang diatas apimu, digarami lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut

Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh

CHAIRIL ANWAR
(1948)

Liberty,
Jilid 7, No 297,
1954 Chairil anwar

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

KISAH POHON APEL

Agustus 17, 2009 at 8:35 am (Motivasi)

Mungkin cerita ini cerita lama, tapi saya hanya bermaksud mengingatkan saja..
yah hitung-hitung sebagai bahan perenungan aja…

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.

Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. “Ayo ke sini bermain-main lagi denganku,” pinta pohon apel itu. “Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi.” jawab anak lelaki itu. “Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya.” Pohon apel itu menyahut, “Duh, maaf aku pun tak punya uang… tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu.”
Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita.

Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih. Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang. “Ayo bermain-main denganku lagi.” kata pohon apel. “Aku tak punya waktu,” jawab anak lelaki itu. “Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?” “Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu.” kata pohon apel.
Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya. “Ayo bermain-main lagi deganku.” kata pohon apel. “Aku sedih,” kata anak lelaki itu. “Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?” “Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah. Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.

Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. “Maaf anakku,” kata pohon apel itu. “Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu.” “Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu.” Jawab anak lelaki itu. “Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat.” Kata pohon apel. “Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu.” jawab anak lelaki itu. “Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini.” Kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata. “Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang.” kata anak lelaki. “Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu.” “Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.” Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

Inspirasi :
Pohon apel itu ibarat orang tua kita. Ketika muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu. Ketika kita tumbuh besar, meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua akan selalu ada untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Kita mungkin berpikir bahwa si anak lelaki telah bertindak sangat kasar pada pohon itu. Mungkin begitulah cara kebanyakan dari kita dalam memperlakukan orangtua kita sendiri.

Seorang sahabat Nabi melaksanakan ibadah haji bersama Ibunya. Sepanjang kegiatan haji tersebut beliau menggendong sang Ibu di punggungnya. Sa’i, tawaf, aktivitas-aktivitas tersebut dilaksanakan sambil Ibunya tetap berada di punggungnya. Mungkin anda bisa membayangkan betapa beratnya itu. Sahabat tersebut menyampaikan pengalamannya ini kepada Rasulullah.
”Ya Rasul, apakah sudah tergantikan semua jasa Ibuku?”
”Jangankan itu, bahkan jika kau kuliti seluruh tubuhmu, lalu kau serahkan kepada kedua orangtuamu, tidak akan sanggup membalas jasa mereka kepadamu meski setengahnya.”
(maaf penulis lupa detail dialog asli, tapi maksudnya kurang lebih sama).

Demikian besarnya jasa orangtua kepada saya, anda. Tidak dapat tergantikan meski dengan pengorbanan yang teramat besar sekalipun. Ibu harus menahan sakitnya antara hidup dan mati untuk melahirkan kita. Ayah harus bekerja siang malam tak kenal waktu untuk mencukupi kebutuhan hidup kita sehari-hari. Tak jarang beliau berangkat bekerja pada pagi hari untuk kemudian kembali ke rumah ketika matahari sudah tenggelam. Tapi, sebagian dari kita, termasuk saya memang hanya bisa membalas jasa mereka dengan seadanya. Dikarenakan keterbatasan ilmu, ada yang menyalahkan orangtua karena kurangnya perhatian yang mereka dapatkan.

Pernahkah kita mencoba memandang dari sisi lain? Betapa kasihannya mereka, orangtua, yang mati-matian mencari nafkah demi kelangsungan masa depan kita. Mereka kehabisan waktu untuk menikmati kebersamaan bersama anak-anak mereka. Justru pada saat si anak sudah beranjak dewasa, mereka harus melepas anak-anaknya untuk menjalani hidup baru bersama istri atau suami masing-masing. Betapa sedikitnya waktu bagi mereka? Kelak, kita yang saat ini menjadi anak-anak akan merasakan juga amanah sebagai orangtua. Saat itu, mungkin kita baru bisa merasakan, apa sebetulnya yang pernah orangtua kita rasakan selama membesarkan kita.

Ada beberapa hal mendasar yang perlu kita ingat dalam berbakti kepada kedua orangtua. InsyaAllah, dengan landasan-landasan ini kita bisa menyempurnakan bakti kita kepada kedua orangtua. Di antaranya pertama, berbakti kepada orangtua adalah salah satu amal yang paling dicintai oleh Allah SWT.

Sebagaimana diceritakan dalam hadist yang diriwayatkan oleh Abdur Rahman Abdullah Ibnu Mas’ud ra,
“Aku pernah bertanya kepada Nabi saw mengenai amalan apa yang paling dicintai di sisi Allah.”
Rasulullah bersabda, “ Shalat tepat pada waktunya”.
Kemudian aku bertanya lagi, “Apa lagi selain itu?”
Bersabda Rasulullah, “Berbakti kepada kedua orang tua”
Aku tanyakan lagi, “Apa lagi?”
Jawab Rasulullah, “Jihad di jalan Allah.”

Tentang betapa pentingnya berbakti kepada kedua orangtua ini dilakukan sebelum berjihad, dikisahkan bahwa Rasulullah pernah menolak salah seorang sahabat untuk berjihad di jalan Allah karena belum mendapatkan ridha dari orangtuanya. Akhirnya Rasulullah memerintahkan sahabat tersebut untuk segera pulang membantu kedua orang tuanya. Kedua, berbakti kepada kedua orangtua bukanlah sebuah jual beli atau balas budi. Salah satu sebabnya telah diutarakan oleh cerita tentang salah seorang sahabat yang membawa Ibunya di punggungnya selama melaksanakan haji di atas.

Di samping itu, ada hadist yang berbunyi,
“Tidak akan dapat membalas seorang anak kepada orang tuanya melainkan anak itu mendapatkan orang tuanya sebagai hamba sahaya lalu dia membelinya kemudian memerdekakannya”.
Saking besarnya, jasa orangtua tidak akan pernah dapat terbalaskan dengan cara apapun oleh sang anak. Ketiga, perbuatan baik kepada kedua orangtua memang dianjurkan. Tetapi, ketika dihadapkan pada keduanya, lebih diutamakan untuk mendahulukan perbuatan baik kepada ibu. Mungkin anda pernah mendengar kisah seorang sahabat yang bertanya kepada Rasulullah,
“Siapakah yang lebih berhak di antara manusia yang harus aku perlakukan secara baik?”
Jawab Rasulullah, “Ibumu.”
Bertanyalah lagi sahabat tersebut, “Siapa lagi Ya Rasulullah?” Menjawab Rasulullah, “Ibumu.”
Bertanya lagi sahabat tersebut, “Siapa lagi Ya Rasulullah?”
Jawab Rasulullah, “Ibumu.”
Bertanyalah lagi sahabat tersebut, “Siapa lagi Ya Rasulullah?”
Barulah Rasulullah menjawab, “Bapakmu.”

Di dalam Al Quran Surat Lukman ayat 14, Allah memerintahkan kepada manusia untuk berbuat baik kepada kedua orangtuanya. Terutama yang dijelaskan di dalam ayat tersebut adalah perihal ibu yang telah mengandung dan menyusui anaknya. Keempat, bakti kepada orangtua hendaklah juga diikuti dengan bakti kepada Allah SWT. Sebagaimana disampaikan oleh Allah di dalam Surat Al Isra ayat 23, Allah memerintahkan untuk taat kepadaNya dan berbuat baik kepada kedua orangtua, melarang perkataan ”ah” dan membentak keduanya dan anjuran untuk mengucapkan kata-kata yang mulia. Dengan demikian terlihat bahwa keduanya harus diiringkan dan tidak dapat dilaksanakan secara terpisah.

Rasulullah menyampaikan pertanyaan seorang sahabat dalam salah satu hadits beliau, “Ya Rasulullah apakah masih ada kesempatan untuk berbakti kepada orangtuaku setelah keduanya meninggal dunia?” Rasulullah menjawab, “Ya, masih ada”. Beberapa bakti yang masih bisa dilakukan seorang anak kepada kedua orangtua yang sudah meninggal adalah : 1. Mendo’akan keduanya. 2. Memohonkan ampunan atas dosa-dosanya. 3. Melaksanakan janji-janjinya. 4. Memuliakan sahabat keduanya. 5. Silaturrahmi kepada orang-orang yang pernah memiliki hubungan silaturrahmi dengan kedua orangtua.

Semoga setelah membaca cerita ini kita dapat menyempurnakan niat dan mengharap kemudahan langkah dari Allah untuk menjalankan apa yang diperintahkanNya.Amin.

Penulis mengingatkan kepada anda, penulis tidak bermaksud mengguri anda sekalian, melainkan kita sama-sama belajar dalam berbagai hal ini.apel

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Sebuah Do’a

Agustus 16, 2009 at 8:52 am (Islam)

Ketika ku mohon kepada Allah kekuatan Allah memberiku kesulitan agar aku menjadi kuat

Ketika ku mohon kepada Allah kebijaksanaan Allah memberiku masalah untuk kupecahkan

Ketika ku mohon kepada Allah kesejahteraan Allah memberiku Akal untuk berfikir

ketika ku mohon kepada allah Keberanian Allah memberiku kondisi bahaya untuk kuatasi

Ketika ku mohon kepada Allah sebuah Cinta Allah memberiku orang-orang bermasalah untuk kutolong

Ketika ku mohon kepada Allah bantuan Allah memberiku kesempatan

Aku tak pernah menerima apa yang kupinta tapi aku menerima apa yang kubutuhkan
Do’a ku terjawab sudah

Amien….crying-mother

Permalink 2 Komentar

Buah Kata Sang Burung Merak

Agustus 16, 2009 at 8:43 am (Sastra dan Budaya)

ws_rendraSering kali aku berkata,

ketika orang memuji milikku,

bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,

bahwa mobilku hanya titipan Nya,
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,

tetapi,

mengapa aku tak pernah bertanya,

mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?

Dan kalau bukan milikku,

apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat,

ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali,

kusebut itu sebagai musibah,
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja

untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.

Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas,

dan kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
Seolah …

semua “derita” adalah hukuman bagiku.

Seolah …
keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika:

aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan Nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang,
dan bukan Kekasih.

Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,
dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,

Gusti,

padahal tiap hari kuucapkan,
hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…
“ketika langit dan bumi bersatu,
bencana dan keberuntungan sama saja”

Sang Burung Merak : WS Rendra

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

40 Fakta Dunia yang ………

Agustus 16, 2009 at 8:12 am (Humor)

1. Coca-cola dulu berwarna hijau.
2. Nama yang paling umum digunakan di dunia adalah Mohammed.
3. Dalam bahasa inggris, semua nama benua diawali dan diakhiri dengan huruf vokal yang sama.
4. Otot terkuat yang ada di badan kita adalah lidah.
5. Setiap orang di USA punya 2 kartu kredit!
6. TYPEWRITER adalah kata terpanjang yang dapat diketik dalam satu baris tuts keyboard anda.
7. Perempuan ngedip dua kali lebih banyak dari pada laki-laki.
8. Menahan nafas tidak akan membuatmu mati.
9. Setiap manusia tidak dapat menjilat siku tangannya sendiri.
10. Kalau ada orang mengucapkan doa setiap kali ada yang bersin karena memang setiap kali kau bersin, jantungmu berhenti satu milisecond.
11. Secara fisik, setiap babi tidak bisa melihat ke langit.
12. Ucapkan “sixth sick sheik’s sixth sheep’s sick” beberapa kali, nanti anda akan mahir berbahasa inggris!
13. Bersin terlalu keras dapat mematahkan tulang iga, memutuskan pembuluh darah di kepala atau leher dan mengakibatkan kematian.
14. Setiap raja dalam kartu remi melambangkan raja-raja besar jaman dahulu kala:

Raja sekop – Raja Daud
Raja keriting – Alexander Agung
Raja hati – Raja Charlemagne
Raja wajik – Julius Caesar

15. 111,111,111 x 111,111,111 = 12,345,678,987, 654,321
16. Kalau ada patung orang naik kuda dan dua kaki depan kuda itu naik di udara, itu tandanya orang itu mati dalam perang.
17. Kalau kaki kudanya cuma satu yang diangkat berarti orang itu cuma terluka dalam perang.
18. Kalau semua kaki kudanya menjejak tanah, berarti orang itu meninggal karena sakit.
19. Apa persamaan rompi anti peluru, printer laser, tangga darurat dan wiper mobil? Jawabannya: semua ditemukan oleh perempuan! Hah!
20. Satu-satunya makanan yang tidak bisa busuk? Jawaban: madu.
21. Buaya nggak bisa melet lidah.
22. Siput bisa tidur selama 3 tahun.
23. Semua beruang kutub KIDAL!
24. American Airlines menghemat $40,000 tahun 1987 dengan cara mengurangi 1 buah olive dari setiap piring salad yang mereka sajikan untuk penumpang kelas 1.
25. Indera perasa kupu-kupu ada di kaki.
26. Gajah adalah satu-satunya hewan yang tidak bisa lompat.
27. Selama 4000 tahun belakangan ini, jenis hewan yang dipelihara di rumah cuma itu-itu saja.
28. Rata-rata manusia lebih takut pada laba-laba daripada kematian.
29. Shakespeare menemukan kata: “Assassination” dan “bump”
30. Dengan menggunakan cara mengetik 10 jari, STEWARDESSES adalah kata terpanjang yang bisa diketik hanya dengan jari-jari tangan kiri.
31. Semut selalu jatuh ke kanan setiap kali disemprot cairan anti hama
32. Kursi listrik ditemukan oleh seorang dokter gigi
33. Jantung manusia dapat menyemprotkan darah sejauh 30 kaki.
34. Dalam 18 bulan, 2 ekor tikus bisa punya lebih dari sejuta anak tikus!
35. Memakai headphone selama satu jam dapat menstimulasi perkembangan bakteri dalam telinga sebanyak 700 kali lipat!
36. Pemantik ditemukan sebelum korek api.
37. Setiap lipstik mengandung sisik ikan.
38. Seperti sidik jari, lidah manusia pun mempunyai kontur yang berbeda-beda.
39. 99% orang yang membaca tulisan ini mencoba mengalikan fakta no. 15
40. Dan akhirnya, 99% orang yang baca tulisan ini pasti mencoba menjilat siku

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Tuhan Digital ?

Agustus 16, 2009 at 7:59 am (Resensi Buku)

The Digital God
oleh: Greg Iles
Fiksi » Science Fiction

List Price :Rp 63.800
Penerbit :Bentang Pustaka
Edisi :Soft Cover
ISBN :9791227365
Tgl Penerbitan :Maret 2009
Bahasa :Indonesia

Sinopsis Buku:
The Digital God
Di sebuah laboratorium rahasia milik pemerintah, para ilmuwan terkemuka Amerika menciptakan Trinity – sebuah superkomputer yang dapat melampaui kekuatan pikiran manusia. Sebagai seorang ahli etika dalam proyek itu, Dr. David Tennant bekerja di dalam tekanan ilmu pengetahuan yang tak terbatas dan ambisi yang kejam.

Setelah seorang rekan ilmuwannya terbunuh, David mengungkap siapa pembunuhnya. Putus asa, ia menemui Rachel Weiss, psikiater yang menyelidiki mimpi-mimpi buruk yang mengganggunya sejak bergabung dalam proyek itu, dan mereka berdua dipaksa untuk melarikan diri demi nyawa mereka.

Diburu ke berbagai belahan dunia, David dan Rachel menemukan fakta di balik Proyek Trinity, serta kekuatan dahysat yang dimilikinya. Tapi detik-detik terakhir Trinity telah dimulai, dan umat manusia kini dijadikan sandera oleh sebuah bentuk kehidupan yang tak dapat dimusnahkan.

Satu-satunya harapan untuk selamat ada pada hubungan yang mengejutkan antara Trinity dan pikiran David yang tersiksa. Masa depan umat manusia dipertaruhkan – dan kesalahan berakibat pada kepunahan.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Perbedaan Persepsi

Agustus 16, 2009 at 7:36 am (Motivasi)

Ada seorang ayah yang menjelang ajalnya di hadapan sang Istri berpesan DUA hal kepada 2 anak laki-lakinya :
– Pertama : Jangan pernah menagih hutang kepada orang yg berhutang kepadamu.
– Kedua : Jika pergi ke toko jangan sampai mukanya terkena sinar matahari.

Waktu berjalan terus. Dan kenyataan terjadi, bahwa beberapa tahun setelah ayahnya meninggal anak yang sulung bertambah kaya sedang yang bungsu menjadi semakin miskin.

Pada suatu hari sang Ibu menanyakan hal itu kepada mereka.

Jawab anak yang bungsu :
“Ini karena saya mengikuti pesan ayah. Ayah berpesan bahwa saya tidak boleh menagih hutang kepada orang yang berhutang kepadaku, akibatnya modalku susut karena orang yang berhutang kepadaku tidak membayar sementara aku tidak boleh menagih”.

“Juga Ayah berpesan supaya kalau saya pergi atau pulang dari rumah ke toko dan sebaliknya tidak boleh terkena sinar matahari. Akibatnya saya harus naik becak atau andong, padahal sebetulnya saya bisa berjalan kaki saja, tetapi karena pesan ayah itu, akibatnya pengeluaranku bertambah banyak”.

Kepada anak yang sulung yang bertambah kaya, sang Ibu pun bertanya hal yang sama.
Jawab anak sulung :
“Ini semua adalah karena saya mentaati pesan ayah. Karena Ayah berpesan supaya saya tidak menagih kepada orang yang berhutang kepada saya, maka saya tidak pernah menghutangkan sehingga dengan demikian modal tidak susut”.

“Juga Ayah berpesan agar supaya jika saya berangkat ke toko atau pulang dari toko tidak boleh terkena sinar matahari, maka saya berangkat ke toko sebelum matahari terbit dan pulang sesudah matahari terbenam.
Karenanya toko saya buka sebelum toko lain buka, dan tutup jauh sesudah toko yang lain tutup.”

“Sehingga karena kebiasaan itu, orang menjadi tahu dan tokoku menjadi laris, karena mempunyai jam kerja lebih lama”.

Yang kita bisa ambil dari cerita ini :
Kisah diatas menunjukkan bagaimana sebuah kalimat di tanggapi dengan persepsi yang berbeda.
Jika kita melihat dengan positive attitude maka segala kesulitan sebenarnya adalah sebuah perjalanan membuat kita sukses tetapi kita bisa juga terhanyut dengan adanya kesulitan karena rutinitas kita… pilihan ada di tangan anda.

‘Berusahalah melakukan hal biasa dengan cara yang luar biasa’

“ADA BANYAK SUDUT PANDANG MENGENAI SUATU HAL, NAMUN HANYA ORANG YANG SELALU BERPIKIR POSITIF LAH YANG DAPAT MEMAKNAINYA DENGAN BAIK”1486350_143725_52e795e27a_p

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Inspirational Letter

Agustus 16, 2009 at 7:18 am (Motivasi)

Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah, dan hal itu terlihat oleh peng-interview, dan dia mendapatkan pekerjaan tersebut.

Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik.

Ada seorang anak menjadi murid di toko sepeda. Suatu saat ada seseorang yang mengantarkan sepeda rusak untuk diperbaiki di toko tsb. Selain memperbaiki sepeda tsb, si anak ini juga membersihkan sepeda hingga bersih mengkilap. Murid-murid lain menertawakan perbuatannya. Keesokan hari setelah sang empunya sepeda mengambil sepedanya, si adik kecil ditarik/diambil kerja di tempatnya.

Ternyata untuk menjadi orang yang berhasil sangat mudah, cukup punya inisiatif sedikit saja

Seorang anak berkata kepada ibunya: “Ibu hari ini sangat cantik.
Ibu menjawab: “Mengapa?
Anak menjawab: “Karena hari ini ibu sama sekali tidak marah-marah.

Ternyata untuk memiliki kecantikan sangatlah mudah, hanya perlu tidak marah-marah.

Seorang petani menyuruh anaknya setiap hari bekerja giat di sawah.
Temannya berkata: “Tidak perlu menyuruh anakmu bekerja keras, Tanamanmu tetap akan tumbuh dengan subur.
Petani menjawab: “Aku bukan sedang memupuk tanamanku, tapi aku sedang membina anakku.

Ternyata membina seorang anak sangat mudah, cukup membiarkan dia rajin bekerja.

Seorang pelatih bola berkata kepada muridnya: “Jika sebuah bola jatuh ke dalam rerumputan, bagaimana cara mencarinya?

Ada yang menjawab: “Cari mulai dari bagian tengah.” Ada pula yang menjawab: “Cari di rerumputan yang cekung ke dalam.” Dan ada yang menjawab: “Cari di rumput yang paling tinggi. Pelatih memberikan jawaban yang paling tepat: “Setapak demi setapak cari dari ujung rumput sebelah sini hingga ke rumput sebelah sana .

Ternyata jalan menuju keberhasilan sangat gampang, cukup melakukan segala sesuatunya setahap demi setahap secara berurutan, jangan meloncat-loncat.

Katak yang tinggal di sawah berkata kepada katak yang tinggal di pinggir jalan: “Tempatmu terlalu berbahaya, tinggallah denganku.”
Katak di pinggir jalan menjawab: “Aku sudah terbiasa, malas untuk pindah.”
Beberapa hari kemudian katak “sawah” menjenguk katak “pinggir jalan” dan menemukan bahwa si katak sudah mati dilindas mobil yang lewat.

Ternyata sangat mudah menggenggam nasib kita sendiri, cukup hindari kemalasan saja.

Ada segerombolan orang yang berjalan di padang pasir, semua berjalan dengan berat, sangat menderita, hanya satu orang yang berjalan dengan gembira. Ada yang bertanya: “Mengapa engkau begitu santai?”
Dia menjawab sambil tertawa: “Karena barang bawaan saya sedikit.”

Ternyata sangat mudah untuk memperoleh kegembiraan, cukup tidak serakah dan memiliki secukupnya saja.

Ini hanya sekedar logika saja dari penulis…
Untuk hidup anda, anda yang menentukan….

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”Inspiration

Permalink 2 Komentar

Next page »